Nyanyian pegunungan mengalun di kala bahagia
Sarat dengan suara burung berkicau riang seakan kenyang, puas akan makanan
Menemani kita dengan tawa yang bersahaja
Berlomba bersama gemericik air di sungai seberang lembah yang amat tua
Pepohonan mengakar kuat pada dinding-dinding bukit seperti tangan yang merengkuh badan
Pancaran kebahagiaan seakan menaklukkan awan yang terus menembuskan sinar mentari siang
Dan daun yang bersemi turut menjadi saksi penuh misteri
Tuhan memang tak sia-sia mencipta alam dan engkau yang sama indahnya
Serasi dengan bibirmu yang merah seperti buah delima yang tergantung di pohonnya, delima bermahkota ditangkainya
Aku tersenyum karna candamu yang merangkul syahdu kala itu
Menuai kata rindu yang selama ini terkungkung tak tertuang di tenggorokan
Kau ceritakan sudut demi sudut hidupmu seakan kau pencerita hebat, sangat hebat
Hingga habis kata dan kau mengulangnya, dan aku tetap mendengarnya
Lalu dari arah barat, angin tiba-tiba datang dengan hembusan yang melulu dahsyatnya
Menggoyangkan segala ingatan dan meruntuhkan dedaunan yang gugur menguning
Tak ada suara kecuali ranting yang saling beradu banting
Amarah sang awan yang menghitam hadirkan hujan-hujan kesedihan
Menghapus kisah yang tergambar di bebatuan yang kini mulai lapuk oleh waktu dan dipercepat runtuh karna derai air mata yang penuh dengan goresan luka
Senyummu yang melengkung di wajah seperti anak sungai itu nyata sekali menghilang bersama badai yang memporak-porandakan kehidupan
Dimana burung yang berkicau menghantar sukma pada masa bahagia,
Mereka telah pergi meninggalkan jejak yang tergores di batang pohon
Tak peduli betapa sakitnya goresan itu melukai
Tak berfikir berapa lama luka itu akan tertutup kembali
Jangan salahkan jika warna warni pelangi menjadi abu-abu karna kepedihan mata memikul tanya
Arah mata angin yang tak mampu menjawab kepergian, maaf jika khilaf menyumpahimu dengan lara
Betapa terpuruknya seorang kelana yang kehilangan petanya
Sisa kenangan diantara deretan pegunungan, akan tetap berada pada barisannya
Memperkokoh wacana kehidupan yang tak selalu dalam bahagia
Ada saat dimana dahan akan mengering dan jatuh terserak entah kemana
Terhanyut di sungai, membusuk di tanah, terhempas oleh angin hingga di ujung bukit
Tiba dimana langit hadirkan malam yang acap kali menakuti orang dengan kesendirian
Dan nyanyian pegunungan biar menjadi kisah yang berseri
Nanti, entah kapan lagi
#viecha_smile
Tidak ada komentar:
Posting Komentar