Selasa, 24 November 2015

SK caffe Bersajak



Di SK caffe, Aku menanti dan bersajak

Selasa, 10 Nopember 2015
Eka Rafika S. Yang sedang dalam penantian


Banyak yang bercakap tentang hujan di musim ini
Namun sedikit yang menyinggung malam
Ia cemburu
Bulan dan bintangnya tak lagi menjadi bahasan
Sudahlah
Ini musim dimana perigi mulai terisi
Biarlah sumber airnya memenuhi hajat hidup, juga perbincangan para manusia
Mereka sedang bahagia melihat air langit
Tunggu saja
Nanti akan ada saatnya keluhan mulai diaksarakan dengan berbagai model bahasa
Yaitu saat hujan terus mengguyur, pun dengan rindu kepada bulan bintang yang direngkuh malam, yang selalu hadir kecuali bila mendung menggantikan
21:14 WIB

Bising
Suara bambu yang meronta
Entahlah, mereka salah apa
Berkali-kali dipukuli
Sedang yang lain, bambu-bambu yang lebih kecil
Ditiup berulang-ulang
Melengking di kuping
Mengganggu suasana penantian
Aku yang sedang menanti dan bersyair ini
21:20 WIB

Pada puncaknya, prasangka kehadiran yang mengisi bait ini
Aku tengah menunggu
Belum lama, memang
Pada masa ini aku banyak menerka-nerka, kepada setiap suara langkah kaki
Juga kepada orang yang memakai kaos hitam
Atau bertopi
Ku kira, itu dirimu
Ternyata orang lain
21:26 WIB

Selamat malam..
Selamat menikmati secangkir kopi
Atau semangkuk soup
Jangan seperti diriku yang hanya menikmati huruf-huruf bisu
Dengan harapan yang muskil pula
Yaitu: huruf-huruf itu bisa berjalan menemukan dan menemuimu
Lalu berkata sesuai dengan rangkaian yang ada padanya
Sedikit kuberi tahu, rangkaian huruf bisu itu seperti ini
Iya, seperti bait ini
21:35 WIB

Desah desau suara rintik hujan yang kukenang
Siang tadi menetes
Menyentuh-nyentuh daun dan ranting
Begitu pula dengan gedung-gedung di bawah langit
Hingga basah dan basah semua
Aku berjalan menembus tetes air
Dan membelah angin
Sebelumnya, aku sempat berjumpa denganmu didekat pintu
Lalu kau kutinggal dengan gesa
Kutinggal sebentar karena ada suatu urusan
Aku berlari, kau tahu?
Percepat langkah agar bisa lekas kembali dan menemuimu
Percepat langkah juga agar tidak basah penuh karena hujan

Desah desau suara rintik hujan yang kukenang
Siang tadi sempat reda, hanya gerimis kecil
Aku segera kembali
Karena urusanku sudah selesai
Kembali kepadamu yang di dekat pintu
Kembali menembus tetes air dan membelah angin
Namun
Hanya namun
Kau sudah tidak berdiri di dekat pintu
21:59 WIB

Akhirnya kau datang
Ternyata tebakanku meleset
Mungkin karena jalanan licin terkena air dan mulai berlumut
Ternyata kau memakai kaos abu-abu, tidak hitam
Kau tersenyum, namun tidak bertopi
Dan aku bahagia
22:16 WIB

Minggu, 24 Mei 2015

Nuansa Alam



Nuansa alam entah sedang berpihak kepada siapa
Kepada hikmat ketenangan
Bagi insan yang sedang mengamat duka
Atau ramai kebahagiaan
Dalam persemian

Ku lihat air yang tenang
Di sisi lain berisik menyegarkan
Ku renungkan ombak
Namun pecahkan lamunan saat menyentuh karang
Terkadang ia menjelma menjadi semangat
Namun sesekali hadir menggertak

Dan entah
Nuansa alam sedang berpihak kepada siapa
*night.fik

Rabu, 22 April 2015

Kendaraan Beroda Tiga



Ada sebuah kendaraan pengangkut beroda tiga
Ia sudah bisa berjalan seimbang, meskipun kurang kuat menahan beban
Kemudian aku memberinya satu roda
Untuk menemani
Dengan harapan ia bisa lebih banyak mengangkut beban
Dan benar saja, ia menjadi lebih kuat dari sebelumnya
Ia menjadi lebih cepat dan bisa lebih diandalkan
Roda yang kuberi itu disebut dorongan
Atau bahasa kerennya motivasi
Yang melengkapi tiga roda yang sudah ia miliki
Antara lain: kemampuan, impian dan kesempatan

Namun apa yang terjadi setelahnya?
Ia mengganti roda yang ku berikan dengan roda yang lain
Yang entah dari siapa aku pun tak tahu
Mungkin rodaku tidak lebih berkualitas dari yang lain itu
Aku kecewa
Tapi aku juga berfikir
Jika benar rodaku teramat buruk, lalu apa yang akan terjadi dengan kendaraan itu?
Bisa saja rodaku membuatnya terjatuh, tersungkur
Sungguh aku tak begitu tega jika melihatnya terluka

Mungkin, lebih baik aku mengalah saja
Tidak apa-apa jika ia tidak mempergunakannya
Setidaknya, rodaku itu sedikit sudah memberinya satu jalan yang membuatnya lebih kuat
Meskipun kemudian rodaku digantikan dengan yang lain

Rabu, 11 Februari 2015

Nyanyian Pegunungan



Nyanyian pegunungan mengalun di kala bahagia
Sarat dengan suara burung berkicau riang seakan kenyang, puas akan makanan
Menemani kita dengan tawa yang bersahaja
Berlomba bersama gemericik air di sungai seberang lembah yang amat tua
Pepohonan mengakar kuat pada dinding-dinding bukit seperti tangan yang merengkuh badan
Pancaran kebahagiaan seakan menaklukkan awan yang terus menembuskan sinar mentari siang
Dan daun yang bersemi turut menjadi saksi penuh misteri

Tuhan memang tak sia-sia mencipta alam dan engkau yang sama indahnya
Serasi dengan bibirmu yang merah seperti buah delima yang tergantung di pohonnya, delima bermahkota ditangkainya
Aku tersenyum karna candamu yang merangkul syahdu kala itu
Menuai kata rindu yang selama ini terkungkung tak tertuang di tenggorokan
Kau ceritakan sudut demi sudut hidupmu seakan kau pencerita hebat, sangat hebat
Hingga habis kata dan kau mengulangnya, dan aku tetap mendengarnya

Lalu dari arah barat, angin tiba-tiba datang dengan hembusan yang melulu dahsyatnya
Menggoyangkan segala ingatan dan meruntuhkan dedaunan yang gugur menguning
Tak ada suara kecuali ranting yang saling beradu banting
Amarah sang awan yang menghitam hadirkan hujan-hujan kesedihan
Menghapus kisah yang tergambar di bebatuan yang kini mulai lapuk oleh waktu dan dipercepat runtuh karna derai air mata yang penuh dengan goresan luka
Senyummu yang melengkung di wajah seperti anak sungai itu nyata sekali menghilang bersama badai yang memporak-porandakan kehidupan

Dimana burung yang berkicau menghantar sukma pada masa bahagia,
Mereka telah pergi meninggalkan jejak yang tergores di batang pohon
Tak peduli betapa sakitnya goresan itu melukai
Tak berfikir berapa lama luka itu akan tertutup kembali
Jangan salahkan jika warna warni pelangi menjadi abu-abu karna kepedihan mata memikul tanya
Arah mata angin yang tak mampu menjawab kepergian, maaf jika khilaf menyumpahimu dengan lara
Betapa terpuruknya seorang kelana yang kehilangan petanya

Sisa kenangan diantara deretan pegunungan, akan tetap berada pada barisannya
Memperkokoh wacana kehidupan yang tak selalu dalam bahagia
Ada saat dimana dahan akan mengering dan jatuh terserak entah kemana
Terhanyut di sungai, membusuk di tanah, terhempas oleh angin hingga di ujung bukit
Tiba dimana langit hadirkan malam yang acap kali menakuti orang dengan kesendirian
Dan nyanyian pegunungan biar menjadi kisah yang berseri
Nanti, entah kapan lagi

#viecha_smile

Senin, 02 Februari 2015

Dikesekian KM perjalanan



Dikesekian KM perjalanan
Tanjak dan curam
Membawa pandang pada perhatian
Kehati-hatian
Setikung cobaan
Selubang kegagalan

Semua yang ada dan ada
Bersama derai hujan dan perkasa awan
Berdendang membaur tanpa riang
Mencoba membunuh bahagia
Dikesekian KM perjalanan
Haus dan lapar

Sakit dan kesakitan
Bekerjasama mencuri kegirangan
Lalu memaksa kesabaran
Untuk tetap tinggal dalam genggaman
Antara siang dan sore
Dikesekian KM perjalanan
Menunduk
Merindukan

Perjalanan kehidupan
Karir, cinta dan kedamaian
Membiaskan beragam warna
Indah
Menyeramkan
Takluk dengan takdir
Melawan dengan batir
Atau sendiri
Dikesekian KM perjalanan
Masih ada ujian